Sabtu, 03 Juni 2017

Permasalahan Komunikasi dalam Bidang Teknik Sipil

Komunikasi merupakan aktivitas utama manusia, melalui komunikasi manusia dapat bergaul dengan sesama misalnya pergaulan dalam keluarga, lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, organisasi sosial dan lain-lain. Oleh karena itu manusia disebut makhluk sosial.

Kemampuan berkomunikasi yang baik merupakan bagian dari hampir setiap interaksi yang terjadi dalam pekerjaan engineering (insinyur). Karenanya, komunikasi menjadi keterampilan penting untuk seuatu profesi.
Secara prinsip dasar, komunikasi adalah proses dimana terjadi hubungan antara pihak pemberi pesan dengan maksud dan tujuan untuk menyampaikan suatu ide,konsep,perasaan performance kepada pihak penerima pesan dan saling berinteraksi diantaranya sehingga dapat tercipta suatu bobot dan relevansinya. Sedangkan tujuan kita berkomunikasi dengan orang lain adalah menyampaikan ide atau maksud,menilai,mengadakan umpan balik dan proses meyakinkan rekan bicara. Tidak jarang kita temui permasalahan komunikasi didalam perusahaan entah antar departemen,rekan kerja,atau antara dan bawahan. Kebanyakan disebabkan oleh tidak adanya titik temu berbagai pihak,komunikasi yang berjalan lambat,bahkan lebih berbahaya jika komunikasi yang disimpangkan sehingga membuat tim menjadi berantakan. Tentunya hal ini kita memerlukan kemampuan organisasi yang baik dan efektif untuk menyelesaikan hambatan komunikasi yang terjadi dalam perusahaan.

Berikut akan saya jabarkan permasalahan komunikasi yang sering terjadi dalam bidang teknik sipil.

PERMASALAHAN

Profesi seorang Engineer, baik dalam dunia teknik sipil, struktur ataupun geoteknik, mengalami banyak sekali permasalahan dan hambatan (Worsak, 2000; Chiang A.,2003), diantaranya:


  • Produk seorang Engineer sangat unik. Sangat sukar untuk membandingkan karya dua orang Engineer secara adil dan objektif. Namun seringkali pekerjaan atau proyek didapat melalui ‘koneksi’. Seorang engineer yang dapat bersikap ’manis dan menyenangkan’ mendapatkan kesempatan dan proyek yang lebih banyak daripada Engineer yang bersikap tegas dan objektif.

  • Faktor keamanan yang tinggi dan penerapan peraturan-peraturan konstruksi (code) membantu ‘menyembunyikan’ engineer yang berkemampuan kurang. Teori/teknik canggih dan terbaru sangat jarang diterapkan dalam praktek.

  • Peraturan (code of practice), keterbatasan waktu dan peralatan canggih mematikan kreativitas, sering kali Engineer hanya menjadi operator yang hanya mengulang apa yang sudah pernah ada dan sudah pernah dikerjakan.

SOLUSI

Dalam pembicaraan-pembicaraan sesama Engineer sering kali terdengar kata-kata: “Problem sudah kita ketahui, bagaimana seorang engineer ideal bersikap juga sudah kita ketahui. Namun apa yang bisa kita lakukan? Sistemnya memang sudah demikian! Semua hal memerlukan dana, memasang tarif tertentu untuk menaikkan engineering fee? Percuma! Akan dilanggar juga oleh sesama Engineer!”



Tidak bisa dipungkiri, persoalan yang pada akhirnya terkait pada masalah uang ini, atau meminjam istilah anak-anak muda sekarang: UUD = Ujung-Ujungnya Duit, memang sangat peka dan sulit. Namun, fakta juga tidak bisa dipungkiri, bahwa kita perlu dan memerlukan perubahan… tentunya ke arah yang lebih baik.

Nothing is constant, only the changes is constant! Tidak ada yang abadi, yang abadi hanyalah perubahan. Dr. J. Spencer dalam bukunya Who Moved My Cheese menekankan pentingnya mengantisipasi dan proaktif terhadap perubahan. Old beliefs do not lead you to new cheese, the quicker you let go of old cheese, the sooner you find new cheese. Dengan kata lain: keyakinan lama tidak akan membawa kemajuan. Semakin cepat kita melepaskan keyakinan lama, semakin cepat kita menuju hal-hal baru.
PERINGATAN 
Menjadi seorang manager atau engineer yang baik, yang dapat memberikan solusi atas berbagai masalah yang timbul, bukan berarti harus menjadi seorang super yang serba tahu, serba bisa dan serba ahli -- yang diperlukan adalah kemauan dan kemampuan untuk mengidentifikasi masalah dan melakukan koordinasi ke bagian-bagian atau tenaga ahli lain yang lebih kompeten dalam penanganan masalah, serta me-manage pihak-pihak terkait untuk bersinergi dalam penyelesaian masalah yang terjadi, minimalisasi kerusakan atau kerugian yang timbul, serta antisipasi supaya permasalahan yang serupa tidak terulang lagi .

Sikap menghargai setiap bagian/personel tim pelaksanaan pekerjaan baik tim internal maupun tim eksternal, sikap lapang dada dan menyadari kelebihan dan kekurangan masing-masing, kemudian menjembatani setiap bagian dan personel untuk bersinergi dalam menutup kekurangan yang ada serta memaksimalkan kelebihan yang dimiliki tiap bagian, merupakan karakter yang harus dimiliki oleh setiap manager maupun engineer yang bertugas memimpin dan mengarahkan serta memutuskan langkah yang diambil oleh tim pelaksana di lapangan (baik keseluruhan tim/manager) maupun tim teknis (engineer).


Selain hal-hal tersebut di atas, yang paling utama seorang manager maupun engineer harus memiliki
integritas dan mental yang kuat untuk dapat menolak pengaruh, perintah maupun intimidasi yang diarahkan kepadanya, dengan cara yang luwes dan proporsional.


Sumber : 

https://www.linkedin.com/pulse/20140803140802-247773108-engineer-dan-permasalahannya
http://lauwtjunnji.weebly.com/problem-solving.html
 

 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar